Tujuan Psikologi Sastra dan Cara Menerapkan Teori Sastra Psikologi

 Tujuan Psikologi Sastra dan Cara Menerapkan Teori Sastra Psikologi

Tujuan Psikologi Sastra

Tujuan utama dari psikologi sastra adalah memahami aspek-aspek kejiwaan yang terdapat dalam sebuah tulisan. Secara hakiki, karya sastra memberikan cara untuk memahami perubahan, kontradiksi dan berbagai penyimpangan dalam masyarakat, terutama dalam kaitannya dengan kondisi kejiwaan.

Wellek dan Warren (1962:81) menyebut ada dua macam analisa psikologis, yaitu analisa psikologi yang hanya berhubungan dengan pengarang dan  studi psikologi dalam kaitannya dengan inspirasi dan ilham. Dalam penelitian yang dilakukan, psikologi sastra lebih memperhatikan hal kedua karena membahas psikologi dalam hubungannya dengan aspek kejiwaan dari tokoh-tokoh dalam karya sastra tersebut.

Sehubungan dengan pengertian tersebut, maka penelitian psikologi sastra dapat ditempuh dengan dua cara. Pertama adalah dengan menggunakan pemahaman terhadap hokum-hukum psikologi yang lalu diaplikasikan sebagai metode analisa terhadap sebuah karya sastra. Sementara itu, cara kedua adalah dengan menetapkan karya sastra yang akan digunakan sebagai objek penelitian lalu baru menetapkan hukum-hukum psikologi yang relevan untuk menganalisa.

Cara Menerapkan Teori Sastra Psikologi

Sebuah karya sastra merupakan kisahan yang senantiasa bergumul dengan para tokoh fiksional yang diciptakan oleh si pengarang. Agar ceritera lebih menarik, si pengarang kerap kali menampilkan perilaku para tokoh dengan kepribadian yang tidak lazim, aneh, atau abnormal, sehingga menimbulkan berbagai perasaan bagi para pembaca. Tidak jarang para pembaca bertanya-tanya, mengapa si tokoh berperilaku demikian, apa yang terjadi pada dirinya, apa penyebabnya, dan apa pula akibat dari semua ini. Bahwasanya masalah perilaku mungkin saja terkait dengan masalah kejiwaan, maka kisahan semacam ini dapat merupakan masalah psikologis.

Selama ini telaah karya sastra melalui pendekatan Psikologi Sastra sering diperdebatkan karena kerap kali hakikat sastra menjadi hilang, telaah sastra seakan-akan menjadi telaah Psikologi. Oleh karena itu, agar telaah sastra psikologis tidak meninggalkan hakikat analisis suatu karya sastra, maka pencerminan berbagai konsep psikologi di atas perlu disampaikan melalui metode perwatakan yang biasa digunakan dalam telaah sastra. Metode-metode tersebut misalnya, telling (langsung), showing (tidak langsung), gaya bahasa bahasa (figurative language): simile, matafor, personifikasi, dan sudut pandang (point of view).

1)    Metode Telling dan Showing

Metode telling mengandalkan pemaparan watak tokoh pada eksposisi dan komentar langsung dari pengarang.melalui metode ini keikutsertaan atau turut campurnya pengarang dalam menyajikan perwatakan tokoh sangat terasa, sehingga pembaca memahami dan menghayati perwatakan tokoh berdasarkan paparan pengarang. Metode langsung atau Direct Method (telling) mencakup : karakterisasi melalui penggunaan nama tokoh, karakterisasi melalui penampilan tokoh, dan karakterisasi melalui tuturan pengarang ( Minderop, 2005:8)

Metode Showing (tidak Lamgsung) memperlihatkan pengarang menempatkan diri diluar kisahan dengan memberikan kesempatan kepada para tokoh untuk menampilkan perwatakan mereka melalaui dalog dan action. Metode Showing mencakup : dialog dan tingkah laku, karakterisasi melalui dialog.

2)    Teknik Sudut Pandang (Point Of View)

Sudut Pandang (SP) merupakan salah satu unsur fiksi yang dapat digolongkan sebagai sarana cerita. pemilihan Sudut Pandang tidak saja akan mempengaruhi penyajian cerita, tetapi juga mempangaruhi alur cerita.

Sudut Pandang sendiri memiliki pengertian sebagai cara pengarang menempatkan dirinya di dalam cerita. Dengan demikian, Sudut Pandang pada hakikatnya merupakan teknik yang sengaja dipilih penulis untuk menyampaikan gagasan dan ceritanya, melalui kaca mata tokoh atau tokoh-tokoh dalam ceritanya.

3)    Gaya Bahasa (Simile, Metafor, Personifikasi dan Simbol)

a)    Simile adalah perkataan perbandingan untuk subjek dan objek yaitu perkataan : macam, bak, bagai, umpama, seperti, laksana.

Contoh:

·      Mukamu keras macam batu.

·      Tinggi bagaikan gunung.

·      Umpama mimpi dalam igauan.

 

b)    Majas Metafora adalah majas perbandingan yang membandingkan secara langsung dan tepat atas dasar sifat yang sama atau hampir sama

Contoh:

·      Raja singa telah pergi kepereduannya

·      Raja hutan kembali ke dengan gagah perkasa

·      Dewi malam telah keluar dari balik awan

 

c)    Majas personifikasi adalah majas yang membandingkan sesuatu dari benda mati seolah-olah menjadi benda hidup.

Contoh:

·      Hatiku meloncat dari hatinya kepada hatimu

·      Angin berbisik menyampaikan salamku kepadanya

·      Penggaris menari di atas meja belajar

 

d)    Simbol dalam kesusastraan dapat berupa ungkapan tertulis, gambar, benda, latar, peristiwa, dan perwatakan yang biasanya digunakan untuk memberi kesan dan memperkuat makna dengan mengatur dan mempersatukan arti secara keseluruhan. Terdapat simbol yang dikenal seperti : Winter (musim salju) melambangkan usia senja, Spring (musim semi) lambang kemudaan, summer (musim panas) simbol kedewasaan, dan autumn (musim gugur) melambangkan keredupan. Kemudian lamb (domba muda) lambang keluguan / kesucian, lion (singa) lambang keberanian, fire (api) simbol kekuatan dan rock (karang) lambang ketegaran.

Bagikan ke WhatsApp

No comments:

Post a Comment

Selamat datang di Blog Saya, silakan beri komentar Anda di artikel ini, berkomentarlah yang sopan dan sesuai isi artikel. Terima Kasih.

Artikel Populer