Hubungan Teori Sigmund Freud Dengan Sastra
Teori psikologi yang paling banyak diacu dalam pendekatan psikologi atau yang paling dominan dalam analisis karya sastra adalah teori Psikoanalisis Sigmund Freud (Ratna, 2004:62 dan 344). Menurut Freud (2002:3), psikoanalisis ialah sebuah metode perawatan medis bagi orang-orang yang menderita gangguan syaraf. Psikoanalisis merupakan suatu jenis terapi yang bertujuan untuk mengobati seseorang yang mengalami penyimpangan mental dan syaraf.
1)
Teori Kepribadian Psikoanalis oleh Sigmund Freud
Freud (lahir di
Freiberg pada tahun 1856 dan meninggal di London tahun 1939) memulai karir
psikoanalitisnya pada tahun 1896, setelah beberapa tahun Freud buka praktik
dokter. Karena setelah beberapa tahun ia menjadi dokter, Freud tidak pernah
merasa puas dengan cara ia mengobati pasien, Freud berpikir untuk merubah cara
pengobatan pasien. Jika selama menjadi dokter ia mencoba melakukan terapi
medis, Freud berpikir melakukan semacam upaya psikoterapeutik untuk sebagian
besar pasiennya yang ternyata lebih banyak mengalami tekanan jiwa. Terapi itu
disebutnya sebagai Psikoanalisis. Psikoanalisis adalah disiplin ilmu yang
dimulai sekitar tahun 1900-an oleh Sigmund Freud. Teori psikoanalisis
berhubungan dengan fungsi dan perkembangan mental manusia. (Minderop, 2010:10)
Psikoanalisis,
mendasarkan pemikirannya pada proses bawah sadar yang membetuk perilaku dan
segala penyimpangan perilaku sebagai akibat proses tak sadar. Psikoanalisis
tidak bertujuan atau mencari apapun kecuali penemuan tentang alam bawah sadar
dalam kehidupan mental. (Freud, 2002:424)
1.
Alam Bawah Sadar
Freud menyatakan bahwa pikiran
manusia lebih dipengaruhi oleh alam bawah sadar (unconscious mind) ketimbang
alam sadar (conscious mind). Ia melukiskan bahwa pikiran manusia seperti gunung
es yang justru sebagian terbesarnya ada di bawah permukaan laut yang tidak
dapat ditangkap dengan indera. Ia mengatakan kehidupan seseorang dipenuhi oleh
berbagai tekanan dan konflik; untuk meredakan tekanan dan konflik tersebut
manusia rapat menyimpannya di alam bawah sadar.
Freud merasa yakin bahwa perilaku
seseorang kerap dipengaruhi oleh alam bawah sadar yang mencoba memunculkan
diri, dan tingkah laku itu tampil tanpa disadari. (Minderop, 2010: 13)
Menurut Freud, hasrat tak sadar
selalu aktif, dan selalu siap muncul. Kelihatannya hanya hasrat sadar yang
muncul, tetapi melalui suatu analisis ternyata ditemukan hubungan antara hasrat
sadar dengan unsur kuat yang datang dari hasrat taksadar. Hasrat yang timbul
dari alam taksadar yang direpresi selalu aktif dan tidak pernah mati.
(Minderop, 2010: 15)
Freud menghubungkan kondisi bawah
sadar dengan gejala-gejala neurosis. Aktivitas bawah sadar tertentu dari suatu
gejala neurosis memiliki makna yang sebenarnya terdapat dalam pikiran. Namun,
gejala neurosis tersebut akan diketahui setelah gejala tersebut muncul ke alam
sadar yang sesungguhnya merupakan gambaran gejala neurosis yang diderita
seseorang di alam bawah sadarnya. (Freud, 2002: 297)
2.
Teori Mimpi
Mimpi adalah fenomena mental. Dalam
mimpi, fenomena mental adalah ucapan dan perilaku orang yang bermimpi, tapi
mimpi orang tersebut tidak bermakna bagi kita dan kita juga tidak bisa
memahaminya. (Freud, 2002:97)
Namun, dalam kasus mimpi, orang
bermimpi selalu mengatakan dia tidak tahu apa makna mimpinya. Tapi, Freud
menyakini bahwa ada kemungkinan, bahkan cukup besar, bahwa orang yang bermimpi
tersebut me ngetahui apa makna mimpinya, hanya saja dia tidak tahu bahwa dia
mengetahuinya sehingga dia mengira dirinya tidak tahu apa-apa. (Freud, 2002:98)
Freud percaya bahwa mimpi dapat
mempengaruhi perilaku seseorang. Menurutnya, mimpi merupakan representasi dari
konflik dan ketegangan dalam kehidupan kita sehari-hari. Demikian hebatnya
derita karena konflik dan ketegangan yang dialami sehingga sulit diredakan
melalui alam sadar, maka kondisi tersebut akan muncul dalam alam mimpi tak
sadar. (Minderop, 2010:17)
Alam mimpi merupakan bagian
ketidaksadaran manusia yang memberikan kebebasan tak terbatas meski simbolisasi
dalam mimpi mendapatkan pertentangan oleh dunia realitas, karena dalam mimpi,
si pemimpi tidak dapat membatasi impian yang akan dimunculkan. Mimpi sebagai
perilaku ketidaksadaran, dalam kesadaran muncul dalam bentuk lamunan. Lamunan
tidak harus selalu tidur karena lamunan bawah sadar juga ada. Lamunan bawah
sadar serupa dengan sumber mimpi dari gejala neurosis. (Freud, 2002:405)
2)
Struktur Kepribadian Menurut Sigmund Freud
Tingkah laku
menurut Freud, merupakan hasil konflik dan rekonsiliasi ketiga sistem
kepribadian (id, ego dan super-ego). Faktor-faktor yang memengaruhi kepribadian
adalah faktor historis masa lampau dan faktor kontemporer, analoginya faktor
bawaan dan faktor lingkungan dalam pembentukan kepribadian individu.
Selanjutnya
Freud membahas pembagian psikisme manusia :
· Id (terletak
dibagian tak sadar) yang merupakan sumber energi psikis.
· Ego (terletak
di antara alam sadar dan tak sadar) yang bertugas sebagai penengah yang
mendamaikan tuntutan dan larangan super-ego.
· Super-ego
(terletak sebagian di bagian sadar dan sebagian lagi di bagian taksadar)
bertugas mengawasi dan menghalangi pemuasan yang merupakan hasil pendidikan dan
identifikasi pada orang tua.
.png)
No comments:
Post a Comment
Selamat datang di Blog Saya, silakan beri komentar Anda di artikel ini, berkomentarlah yang sopan dan sesuai isi artikel. Terima Kasih.